PERSIAPAN SISTEMATIS MENJUAL IDEALISME

Ilustrasi oleh Sarkodit untuk sampul buku Manusia Sore Hari

Siapa sih seniman yang ngga mau kalau dikasih kesempatan mempertahankan integritas karya seninya sambal tetap bisa mendapatkan keuntungan komersil? Hal ini terjadi pada Anju dan Sarkodit, penulis dan ilustrator buku Manusia Sore Hari. Terlepas dari topik “muram, sedikit jenaka” yang sekilas nampak sangat idealis, buku Manusia Sore Hari berhasil menggaet hati penerbit Pickpockie Books hingga akhirnya terlahir dalam bentuk soft-cover dan special edition box set.

Pada tanggal 4 Oktober 2023 di NuArt Sculpture Park, Anju dan Sarkodit membagikan tips dan strategi yang membantu mereka mempersiapkan penerbitan dan memasarkan buku mereka yang idealis. Berikut beberapa poin penting yang bisa kita pelajari.


1. Mulailah dengan audiens

Sebelum memulai menjajakan Manusia Sore Hari kepada para penerbit, Anju dan Sarkodit sudah terlebih dahulu membuat akun medsos dan halaman web untuk buku ini. Lewat platform-platform inilah mereka berhasil menggaet ketertarikan awal para calon pembaca mereka. Bahkan, Sarkodit bilang bahwa dulu dia sering mengunggah karya teaser Manusia Sore Hari meskipun dia belum tahu kapan bukunya akan diproduksi. Tapi, berkat inisiatif-inisiatif ini para calon pembaca semakin tergelitik dan greget menantikan kedatangan bukunya.

Akun medsos dan website yang sudah menggalang massa memberikan nilai jual lebih saat Anju dan Sarkodit menghubungi penerbit. Menurut mereka, penerbit bukan hanya mencari cerita yang menarik tetapi juga cerita yang akan dibeli masyarakat.


2. Cari Partner bisnis yang sefrekuensi

Dalam kasus ini partner bisnis Anju dan Sarkodit adalah penerbit. Meskipun sudah ada beberapa penerbit yang menunjukkan ketertarikan, Anju dan Sarkodit tetap berhati-hati supaya mereka bisa mempertahankan idealisme karya mereka.

Pada awalnya, Manusia Sore Hari ditawar oleh penerbit label yang cukup besar. Tetapi, penerbit tersebut mengajukan cukup banyak perubahan supaya buku tersebut menjadi “lebih mudah diterima pasar”. Akhirnya, Anju dan Sarkodit memilih penerbit Indie PickPockie Books yang memiliki visi artistik yang sama dengan mereka.


3. Bedakan idealisme dengan komersialisme

Dengan memilih PickPockie Books, Anju dan Sarkodit bisa menjaga idealisme mereka. PR selanjutnya adalah mencari peluang komersil yang cocok dengan jiwa Manusia Sore Hari. Salah satu cara yang mereka gunakan adalah menjual buku tersebut dalam 2 bentuk: soft-cover dan box set. Buku soft-cover bisa dijual lebih murah dan menjangkau lebih banyak orang. Bentuk box set dilengkapi gimik unik yang bisa membantu dari segi marketing organic.

Selain itu, Anju dan Sarkodit juga menjual merchandise lain seputar buku Manusia Sore Hari dengan estetika yang bisa menarik lebih banyak lagi pembeli. Dengan begitu, pembaca buku bisa tertarik membeli merchandise dan orang yang melihat merchandisenya bisa menjadi penasaran soal buku tersebut. Kalau Anju dan Sarkodit tidak merencanakan pemasaran dan komersialisasi, buku yang terbit hanya akan menjadi kepuasan pribadi saja.


Pada akhirnya, pilihan antara idealisme atau komersil bukanlah pilihan antara hitam atau putih. Dengan memilih lebih memegang erat idealisme kita, kita ditantang mencari cara penjualan yang lebih kreatif. Sebaliknya, jika kita memilih mengikuti keinginan pasar, ada lebih banyak keinginan pribadi yang harus kita korbankan saat berkarya. Kalau kamu akan memilih yang mana?

Artikel ditulis oleh Dion MBD
Previous
Previous

BUKU CERITA ANAK YANG MENDIDIK DAN MENJUAL

Next
Next

JANGAN TAKUT TIDAK LAKU